Jumat, 18 Februari 2011

PUISI

Menjerit Kehausan
Karya Teuku Asrul

Bumi menjerit kehausan
Menyengat teriknya mentari
Ozon terkikis luka
Menangis iya karenamu
Penguasa!!!

Rakyatmu selalu meminta kepada Tuhannya
Berikan kemakmuran dan jauhi malapetaka
Tapi kau tak pernah berfikir tentang bumi Tuhan
Seakan-akan milikmu

Hai penguasa!!
Kau gorok perutnya, kau babat liar segala
Tak tahu menahu
Infestasi yang kau bangakan
Hanya membawa malapetaka

Tuhan tak lancang dengan kalam-Nya
Ia maha pemurah lagi penyayang
Tetapi, jangan kau pikir iya tak pernah murka
Menjala merata ia beri petaka
Kau terduduk manis di kursi raja
Rakyatmu compang-camping ditelan bencana

Lancang kau penguasa
Tak tahu kalam Tuhanmu
Kehancuran, bencana, karena ulahmu
Kalam Tuhan jangan kau ragu

Tuhan ,,,!
Lindungilah kami
Kami berlindung kepadamu dari penguasa yang zalim
Amin,,,,



Banda Aceh, 10 November 2010

PUISI

Kau Tak Tau Waktu
Karya : Teuku Asrul

Kau tak tau waktu
Tak pernah kau atur itu
Kau tak tau arti waktu
Terhempas semua rindu

Tapi kau bangga dengan baju itu
Bangga tuk duduk manis tersuguh susu
Kau tak tau pandanganku, mereka

Kau tak tau waktu
Kau hanya tau upahmu
Tapi kapan waktu kerjamu
Kau tak tau apa profesimu

Kau tak tau waktu
Yang kau tau hanya perutmu
Munafik,
Kau tak tau waktu
Banda Aceh, 27 Oktober 2010

PUISI

Negeri Syariat
Karya : Teuku Asrul
Di negeri syariat ini
Terpapah sajadah
Porosnya terbentang,  Kakbatullah
Kekal dan abadi menyerpah

Jangan kau cerca syariat
Tersentak pusara tetua
Jangan kau kecam syariat
Kau tak seperti mereka

Sultan raja telah memerintah sebelum kau
Kau sadar atau tak mau sadar
Semua bermuara pada kau
Kau yang mesti di cerca

Kau yang menjual aurat
Kau yang menciptakan lapak
Kau yang melahirkan ramjadah
Kau yang korup
Kau yang menyentuh khamar
Jangan sekali-kali kau cerca syariat

Ia kokoh bak tiang
Ia suci bak putihnya tulang
Ia bersih tak ternoda
Ia lambang yang terpecaya

Bedebah, munafik,,,,!
Jika kau mengecam syariat
                            
                                                 Banda Aceh, 03 Desember 2010

SYAIR

Peukateun Nanggroe
Keunarang Teuku Asrul

Assalamu’alaikom wahe e akhi
Dengoe lon rawi saboh peukara
Donya rap akhe wahe e akhi
Beuna ta hiroe keu poe donya

Bek gadoh taduk bak lapak judi
Sabeb nyan akhi susah syedara
Dalam hudep nyoe beuna taturi
Hukom tuhan beutapeulara

Aleuh nibak nyan e wahe akhi
Kajeut taturi ileume agama
Tajak bak dayah siraman rohani
Bek le taturi arak nyan nama

Adat lawet nyoe hana meukri-sakri
Budaya nasrani yahudi pihna
Agam ngen dara tan le taturi
Sang-sang e rabbi hana agama

Ladom teuduek-duek bak bineh pasi
Nyoe ken ngen dara sang tan sampoerna
Teuka di dara hana le budi
Rata klek agam ka meuturi nama

Nyoe saboh tanda wahe e akhi
Peukateun nanggroe donya ka akhe
Beuna taingat wahe e akhi
Nyan nyang lon rawi beuna tapike

Kajeut ohno dile wahe e akhi
Singoh lusa tasambong teuma
Nyoe na umue geubi le rabbi
Cae peudong agama ta rawi teuma

                                                                        
                                                                        Banda Aceh, 10 Desember 2010

LAPORAN FEATURE

Menguak Lima Makam Syuhada
oleh
Teuku Asrul
Gelap. Hanya remang-remang cahaya lampu memberi sedikit terang. Suasana hening, hanya suara bising kendaraan yang masih terdengar dari kejauhan. Malam itu, tak lama setelah senja beranjak, aku dan salah seorang temanku mendatangi sebuah pemakaman yang terletak tepatnya di belakang gedung AAC Dayan Dawood. Pemakaman tersebut di apit oleh gedung AAC dan Gedung Flamboyan, sebelah timurnya terdapat sebuah kantin, orang-orang meneybutnya kanti AAC.

Maksud saya berziarah ke makam itu adalah untuk mengetahui secara pasti siapa saja yang dimakamkan di tempat tersebut. Selain itu, saya juga sempat mengabadikan makam tersebut ke dalam kamera Fuji Film. Tak ada firasat akan ketakutan sedikitpun ketika berada di tempat itu, meski kami hanya berdua.

Banyak sumber sejarah menyebutkan, bahwa sekitar lebih kurang 7 abad silam Aceh merupakan salah satu wilayah yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu dan Budha. Konon katanya, Aceh pertama sekali dikuasai oleh pendatang-pendatang dari Cina. Oleh karena itu, ajaran yang ditularkan kepada penduduk Aceh sesuai dengan keyakinan meraka.

Beberapa abad setalah peradaban hindu dan budha berkembang pesat di Aceh, secara avolusi, para penyiar agama Islam pun mulai mengapakkan sayapnya ke Aceh. Beragam cara dan alasan dilakukan demi mensyiarkan Islam ke Aceh. Baik dengan perdagangan, kerjasama dan lainnya. Dari banyaknya para mujahidin dalam membawa ajaran Islam ke bumi Aceh ini, termasuk di anataranya H. Achmad Qasturi berasal dari Turki, (1316-1389), Datok Nafi berasal dari Malaysia, Muda Selangor berasal dari Selangor Malaysia, Abu Said  berasal dari  Tanoh Abe, Aceh Besar dan Tgk. Malem Panyang Pelanggahan, 1337-1399, yang makamnya sekarang tepat di tengah kampus jantong hate oreung Aceh, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Mengingat kelima syuhada tersebut sangat berjasa dalam menyiarkan agama Islam ke Aceh, maka makam para syuhada tersebut tidak dipindahkan sebagaimana makam lainnya dan juga sudah menjadi warisan bagi orang Aceh untuk menghormati makam-makam para syuhada. Dulu, area ini adalah pemakaman umum dan kemudian karena dibukanya Unsyiah pemakaman tersebut pun dipindahkan, kecuali kelima makam syuhada tersebut. Ditengah-tengah jeurat tersebut tampak dua batang pohon besar yang tak terhitung usianya. Akarnya pun tampak sudah memporak-porandakan kelima jeurat para syuhada itu.

Laporan Feature

LIPUT

Kenduri  Jeurat Sebuah Tradisi
Oleh
Teuku Asrul

Sebuah tradisi yang memang sudah terwarisi, yaitu kenduri jeurat. Tradisi ini memang sudah menjadi warisan turun-temurun masyarakat Darul Makmur khususnya dan seluruh masyarakat Aceh umumnya. Runtinitas tahunnan ini bagi masyarakat Darul Makmur memang sudah sangat mengakar dalam kehidupan sosialnya. Mereka berpendapat, kenduri jeurat memang suatu cultural yang tak boleh tidak dilakukan.
Pelaksanaan rutinitas tahunan ini dilaksanakan dalam dua versi, ada yang melaksanakan pada saat momentum lebaran idul fitri dan ada pula yang melaksanakan pada saat memontum idul adha. Namun, mayoritas persentasinya lebih dominan dilaksanakan pada momentum idul fitri. Mengapa? Masyarakat Aceh atau Darul Makmur khususnya, melihat bahwa pelaksanaan tersebut dikonvensionalkan dilaksanakan ketika momentum lebaran tidak lain adalah untuk bersilaturahmi dengan para kerabat atau saudara yang telah mendahuluinya mengahadap sang Khalik.
Beragam pelaksanaan kenduri yang dilakukan, ada yang melakukan di rumah dan ada pula yang melakukan langsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Namun, pada umumnya masyarakat lebih dominan melaksanakannya di TPU, sebab di gampong-gampong pemakamannya adalah satu tempat, yaitu di TPU.
Pelaksanaan kenduri jeurat ini dilaksanakan oleh masrakat gampong tersebut, baik yang ada tak ada sanak saudaranya di TPU. Terlebih lagi yang bagi keluarga penghuni. Kenduri jeurat ini adalah kegiatan gampong yang memang diharuskan untuk diikuti oleh seluruh masyarakat gampong tersebut. Selain itu, ketika kanduri jeurat berlangsung juga ikut dihadiri oleh kerabat-kerabat lain yang ada familinya dikebumikan di pemakaman tersebut, meski mereka bukan penduduk gampong tempat pemakaman.
Hari pelaksanaan berlangsung sangat meriah. Dengan suasana yang ramai juga diiringi dengungan-dengungan ilahi rabbi yang mengagungkan-Nya mencirikan keceriaan tersendiri. Rasa haru pun dirasakan seakan-akan mereka bisa bertemu langsung dengan sanak keluarganya yang telah mendahuluinya. Kebaktian masyarakat Darul Makmur terhadap orang tua yang telah mendahuluinya terealisasi dari pembacaan surat yasin yang langsung dibacakan di samping jeurat orang tuanya. Tidak lain mereka hanya mendoakan orang yang telah mendahuluinya terjauhi dari siksaan dan akan mendapatkan kebahgiaan di alam kuburnya.
Setelah pembacaan yasin kemudian dilanjutkan dengan menyiram kubur dengan air dari atas sampai kekaki kubur. Setelah itu untuk ansak-anak atau cucunya diharuskan untuk mencuci muka di atas kubur sambil mendoakan agar kelak mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Setelah pengajian yang dilaksanakan di rangkang selesai, tengku memimpin samadiah bersama, kemudian ditutup dengan doa untuk ahli kubur secara umum dan kemudian kepada seluruh saudara yang telah berhadir dalam kenduri itu.
Kemudian setelah habis berdoa, acara di tutup dengan makan bersama dengaqn makanan yang telah disediakan sebelumnya oleh masing-masing keluarga yang berkunjung. Setelah acara makan-makan selesai, maka selesai lah acara  kenduri jeurat tersebut.
Penulis Adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra FKIP Unsyiah.

Senin, 01 November 2010

PUISI

Sajak Om Asrul
Karya : Teuku Asrul

Nanda, selamat datang di rumah ini
Rumah yang harmoni serta ditaburi cinta kasih
Tak ada keji, tak hinggap benci
Yang bersemi hanya cinta dan kasih

Kedatanganmu memberi warna baru bagi segenap keluarga ini
Menambah kisah-kisah yang akan tersimpan dalam sajak-sajak senja kami nanti
Kau pun yang akan menyambung titah keluarga ini
Tentu setelah kami memberimu nyanyian-nyanyian rabbi

Kau akan menjadi seorang berbudi
Pemberi solusi dan siap berdedikasi tuk kami
Keluarga, bahkan tuk negeri ini

Nanda, suburlah dirimu
Menjadi seorang anak yang patuh dan takzim terhadap orang tuamu

Salam bahagia dan doa yang bisa om ucapkan untukmu
Tak ada bingkisan, tak ada jasat ommu
Om nan jauh disana
Tak tau waktu
Tak tau apa-apa
Hanya tiba-tiba saja
Tapi jangan kau hiraukan semua itu

Nanda, setelah hari ini kau di fitrah dengan sebuah nama
Jadilah dirimu anak yang salih
Bagi ibu tentu tak lupa papamu
Selamat datang satria kecilku
Di kerajaan kecil dan sederhana ini

Doa selalu menyertaimu
Bersama sajak-sajak yang berirama

                                                       
                                                       Banda aceh, 05 November 2010